Beberapa hari yang lalu, lagi-lagi gigi saya bermasalah. Sehingga mau tidak mau saya harus berobat ke dokter. Setelah diperiksa, ternyata yang bermasalah bukan gigi, melainkan gusi saya. Ternyata gusi saya meradang. Akhirnya saya dikasi obat di bagian gusinya itu. Dan setelah 3 hari, saya harus kembali lagi untuk di check kembali.
Singkat cerita, saya pun datang kembali untuk kontrol gusi saya yang katanya meradang. Saya datang sekitar jam 8 malam waktu Indonesia bagian Dumai. Etikanya, siapa cepat dia dapat alias siapa yang duluan datang dia lah yang maju duluan. Seperti biasanya, saya datang tidak lebih awal sehingga mendapat nomor antrian 9. Parahnya, pasien-pasien sebelum saya adalah pasien-pasien dengan berbagai macam keluhan, ada yang pasang behel, pasang gigi, cabut gigi(eh ada gak ya?!) dan lain-lain. Asal Anda semua tau, satu pasien bisa menghabiskan waktu sekitar 15 menitan bahkan bisa setengah jam lebih. Saya tidak begitu hafal jam berapa praktik dokter ini dibuka, tapi yang jelas pasien nomor satu baru masuk sekitar jam 7an. Itu artinya, mau tidak mau saya harus menunggu kapan pun, jam berapapun giliran saya. Hanya ada dua opsi : keep waiting atau dicancel saja. Akhirnya setelah berdiskusi dengan si mama akhirnya saya memilih untuk tetap menunggu dan menunggu sampai akhirnya saya baru dipanggil jam 10 lewat 30 menit. Ok, saya bukan lah pasien yang terakhir, melainkan kedua terakhir. Lumayan bisa berbangga hati.
Saya pun masuk ke ruangan dokter. Beginilah kira-kira percakapan saya vs dokter :
D : 'Bagaimana gusinya? masih sakit?'
S : 'Udah engga dok'
D : 'tapi obat yang dokter kasih udah abis kan?'
S : 'udah dok'
D : 'engga ada keluhan lagi?'
S : 'engga dok'
D : 'yasudah'
S : *diam seribu bahasa sunda, padang, jawa* (dalem hati 'udah aja?' sisanya bengong sejenak) 'oh gitu yah dok, yaudah makasih ya dok'
saya pun keluar.
durasi : gak lebih dari 5 menit.
Juara. Periksa gak sampe 5 menit, tapi nunggunya paling lama se-dunia.
Gak ada yang salah disini, yang salah ya saya sendiri. Kenapa gak dateng lebih awal. fufufu..
Well, kalo kata temen saya, 'itu lah seni nya mengantri'. Gak peduli siapa saya, apa urusan saya, yang namanya antri ya antri. Gak ada istilah 'saya cuma sebentar kok, saya saja yang duluan'. Ohhh tidak bissaa kalo kata om sule.
Akhir kata, Budayakanlah antri! Kalo mau di depan, ya datenglah lebih awal.