Sabtu, 27 Juni 2009

Pengalaman bertemu bapak angkot yang ramah :)

Beberapa bulan yang lalu , aku dan mama berlibur ke bandung. Pada suatu malam, aku diajak oleh sepupu cewekku berbelanja ke salah satu pusat perbelanjaan di bandung. Sekitar pukul 19.00 WIB, setelah makan malam aku berangkat dengan sepupuku dari rumah , berdua sajaa.

Tanpa disadari jam adidas ditangan ku memberikan isyarat bahwa hari sudah malam, dan tidak baik bagi perempuan masih berkeliaran di luar pukul 21.30 ini. Lalu, aku dan sepupu ku pun bergegas keluar dari pusat perbelanjaan itu dan berusaha mencari angkot untuk pulang kembali kerumah. Sepupuku ragu apakah masi ada angkot jam segini?! Memang sih masih ada, tapi gada satupun yang melewati jalan rumah sepupu ku itu. Aku dirundung oleh perasaan cemas. Mungkin ini juga didukung oleh pengalaman2 ku menonton sergap, tangkap,buser ato apapun lah namanya yang menyajikan sejumlah tindak kriminal maupuun asusila yang terjadi di kota2 besar, layakny bandung. Aku pun mulai berpikiran yang tidak tidak karena banyak tukang2 ojek dan becak yang menawarkan tumpanganya, malam malam pula .  Tapi tidak satupun dari mereka yang diterima oleh sepupuku itu. Kami tetep berusaha menemukan angkot. 

Setiap angkot yang lewat, setelah ditanyai, ternyata tetep saja tidak melewati jalan rumah sepupuku itu.

Akhirnya, tidak lama kemudian, sebuah angkot menghampiri kami , lalu sepupuku bertanya : "lengkong besar, kang?"(nama daerah rumah sepupuku) . Sementara itu aku hanya diam, tidak berkata apapun, dan aku hanya memperhatikan seorang bapak dengan jaket hitam memakai celana kain duduk didalam angkot tersebut. Dan penumpangnya hanya satu orang saja, yaitu bapak berjaket hitam itu. Kemudian, si akang menjawab : "mmm, bisalah neng!" (dengan sedikit berat hati). Akhirnya aku dan sepupuku bergegas naek ke angkot si akang walaupun aku sedikit takut melihat tampang si bapak yang rada nyeremin.tapi, mau tidak mau, hanya itulah angkot yang tersisa. Tiba-tiba si bapak berjaket hitam ngajakin ngobrol kami berdua.  Hatiku tersentak, wah si bapak bertampang sangar yang kukira orang jahat berhati baik jugaa. Si bapak nanyain : "ngapain jem segini masih diluar neng?", si bapak bertanya dengan ramah. lalu sepupuku menjawab : "iya nih pak, lagi ada yang mau di beli aja". Tak disangka dan tak dinyana, si bapak adalah pemilik angkot yang kami naiki itu, dan yang sedang mengedarai angkot itu dari belakang tampak kurus, dengan rambut pendek, tegap mengendarai angkot namun terpancar rona 'baik hati' jika dilihat dari tempat kami duduk adalah anak si bapak. begitu pengakuannya. Anaknya itu tidak bisa melanjutkan sekolahnya oleh karena kehidupan ekonomi yang tidak mendukung.Namun begitu, si bapak tetap bahagia menjalani kehidupan ini, mungkin memang ini lah nasibnya, karena segala sesuatu sudah diatur oleh yang diatas. lalu si banyak menanyakan bagaimana sekolah kami . Dan setelah mengetahui bahwa sepupuku berkuliah di ITB dan aku yang masih duduk dibangku SMA , lalu si bapak menasehati sekaligus mengingat kan untuk selalu bersyukur karena orang tua kami mampu membiayai sekolah kami . Hatiku pun serasa ikut meratapi kesedihan yang terpancar dari mata si bapak berjaket hitam itu. Tak terasa, gapura ungu gang rumah sepupuku mulai terlihat remang-remang oleh secercah cahaya dari lampu jalan yang menerangi jalan itu. Kami pun bersiap-siap untuk segera turun dari angkot. tapi, sebelum itu si bapak bilang  jalan ini bukan lah jurusan angkotnya. sebenarnya angkot si bapak tidak melewati jalan ini. "bapak hanya ingin membantu neng, lagian kasian neng malem-malem gini blom dapet angkot, yaudah sekalian aja atuh bapak anterin, bapak mau pulang jugaa", sambung si bapak. Aku pun menghela napas seperti lepas semua beban tanggungan ku. betapa mulianya hati si bapak. Dan kami pun turun dari angkotnya dan tidak lupa mengatakan TERIMA KASIH kepada si bapak dan tak lupa pula membayar ongkosnya. Dari sini aku medapatkan pelajaran berharga yang mungkin tak kan bisa aku dapatkan ditempat lain. Memang kota-kota besar seperti , ya dalam hal ini adalah bandung, tak terlepas dari kejahatan2, tindak2 kriminal seperti yang kita lihat di tivi-tivi. Tapi, wajah si bapak mengingat aku kembali bahwa kita tidak bisa menilai orang dari luarnya saja, tetapi lihatlah kepada hatinya. maafkan aku bila aku sempet berpikir negative tentang bapak. Dan satu lagi pelajaran berharga itu adalah bersyukurlah terhadap apa yang telah kita peroleh. Dan alhmdulillah, ak dan sepupu ku sampai dirumah dengan selamat :)

3 komentar:

  1. Tumben naek angkot.biasaanya jln kaki
    Heehehehe

    BalasHapus
  2. weeee, kesekolah boleh jalan kaki, tapi kalo keluar naek angkot dong :)) HAHAHAH

    BalasHapus

atas nama susi danistha andriani mengucapkan terima kasih bwt kamu-kamu yg udh lyt blog aku ini yg pd dsr ny aku jg gtw ap yg udah aku isi dan didasari oleh keinginan untuk "coba-coba" saja . bwt teman2 yg mao kasi komentar silahkan :)